Breaking News
Home / Strategi / 8. Kumpulkan Kelemahan Lawan

8. Kumpulkan Kelemahan Lawan

Print Friendly, PDF & Email

#8.  KUMPULKAN KELEMAHAN LAWAN

“If you tell a lie big enough and keep repeating it, people will eventually come to believe it ”  (Dr. Joseph Goebbels)

“Selama saya menjadi asisten Profesor Osman Raliby yang mengajar mata kuliah Propaganda Politik dan Perang Urat Syaraf di Universitas Indonesia sekitar tahun 1978- 1980, berulang kali beliau mengingatkan agar saya jangan menggunakan teknik-teknik propaganda, karena semua itu bertentangan dengan etika dan bertentangan dengan ajaran agama. Profesor Osman Raliby pernah ‘berguru ’ kepada Jozef Goebbels, ketika belajar di Universitas Humbolt, Berlin, menjelang Perang Dunia II. ” (Yusril Ihza Mahendra)

Pemilu adalah PERANG sekaligus BISNIS. Di dalam keduanya, INFORMASI adalah kuncinya!

Informasi sebanyak mungkin tentang seluk-beluk perang dan bisnis haruslah komprehensif dan up to date. Selanjutnya, berbasis keutuhan informasi itulah diambil keputusan, baik di medan perang maupun bisnis, yang dapat dipertanggungjawabkan, rasional dan aplikatif.

PERANG. Sebagai bentuk pertempuran, pengetahuan dasar yang harus dimiliki adalah tentang kondisi medan, ketersediaan senjata, kesiapan pasukan, kekuatan dan kelemahan lawan, ketersediaan bahan makanan (logistic). Dalam satu kalimat sederhana, perlu pengetahuan tentang kekuatan lawan (musuh) dan kelemahan sendiri untuk mengatur langkah strategis pemenangan.

Tahukah Anda apa hukum dasar perang?

Hanya 2 (dua), yakni: MENANG atau KALAH. To be or not to be. Menang berarti akan tetap hidup dan jadi penguasa, dan kalah berarti terkubur alias mati. Atau sekurang-kurangnya tetap hidup, tapi jadi tawanan. Bahkan sejarah perang menceritakan bahwa kaum yang terkalahkan dijadikan BUDAK.

Apakah yang perlu dipahami tentang perang?

PERTAMA, kerahkan semua kekuatan. Perhatikan nasehat al-Qur’an tentang perang. Tegas tertulis dalam QS. Anfal ayat 60:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang -yang dengan persiapan itu, kamu menggentarkan musuh-musuh Allah dan musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya.”

Pesan tegas dari ayat di atas jelas tersurat, yakni mempersiapkan segala hal yang memungkinkan untuk meraih kemenangan.

KEDUA, kenali lawan. Nasehat filosof Cina kuna, Sun Tzu, jelas bahwa, “if you know both yourself and your enemy, you will come out of one hundred battles with one hundred victories

Pengetahuan akan kekuatan dan kelemahan lawan, serta pengetahuan akan kekuatan dan kelemahan sendiri menjadi condition sine qua non bagi kemenenagan di berbagai medan pertempuran.

Informasi tentang kekuatan sendiri harus bisa tersebar sampai ke pihak lawan, dan akan menjadi semacam psywar, `perang urat syaraf, yang dilancarkan untuk menimbulkan efek ketakutan di tengah-tengah lawan yang akan sangat bermanfaat dalam melancarkan serangan berikutnya.

Sementara, informasi tentang kelemahan lawan, harus tersebar secara sistematis, masif, dan terstruktur. Misalnya, informasi tentang partai terkorup berdasarakan penelitian yang dirilis oleh media. Atau tentang kepala daerah kader dari suatu partai politik yang terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Kompsi (KPK). Perhatikan ilustrasi berikut!

Dari gambar di atas, yang diambil dari detiknews, tampak bahwa dalam rentang tahun 2014 – 2017, partai-partai politik hasil Pemilu 2014, (tidak termasuk PBB), dikategorikan sebagai Partai Terkorup. Ini jelas menguntungkan PBB yang tidak termasuk dalam listing partai terkorup itu.

Informasi ini harus sampai kepada publik, pemilih khususnya. Bahkan dalam skala tertentu, informasi ini akan efektif bila tersebar di dalam basis-basis (kantong) suara lawan. Sekurang-kurangnya akan mampu memecah soliditas pendukungnya. Atau, menimbulkan keraguan.

Atau dalam skala regional, ekspose yang masif tentang Kepala Daerah Dari Parpol Yang Tersangkut Korupsi dan telah ditangani KPK, misalnya, akan menjadi pembanding yang baik bagi pemilih di daerah-daerah pemilihan yang bersangkutan

Intinya mengumpulkan sebanyak mungkin informasi tentang kelemahan lawan untuk selanjutnya disajikan kepada publik, pemilih, adalah pekerjaan penting selain memerkuat kemampuan diri sendiri

BISNIS. Dalam bahasa sehari-hari sering disebut sebagai dagang atau jualan’, ‘bakulan’. Dunia bisnis adalah dunia icon, dunia branding. Dunia dengan tuntutan penciptaan citra positif atas produk yang ditawarkan pada publik.

Selain itu, bisnis pun menuntut terciptanya jaringan (network) yang semakin besar dan terkoneksi baik, dan pada akhirnya melibatkan banyak orang (massal).

Hal terpenting selain icon, branding, dan network, dalam dunia bisnis adalah lahirnya trust.

Rasa ingin kembali berkunjung ke satu tujuan wisata (repeat destination), kembali ingin merasakan gigitan berikutnya (second bite) merupakan bentuk trust yang lazim kita saksikan.

Namun, hal terlarang dalam bisnis pun haruslah diketahui, yakni terdapatnya cacat produk (void). Cacat pada produk yang ditawarkan, adalah tabu. Terlarang dan semaksimal mungkin dihindari!

Nah, di titik inilah pemahaman caleg tentang pemilu sebagai bisnis menjadi penting. Jaringan (network) dan kepercayaan publik (trust) merupakan modal sosial yang sangat berharga untuk bisa menjemput kemenangan di dapilnya. Sementara cacat (void) pada caleg, yang terpublikasi – sekecil apapun, adalah sesuatu yang harus dihindari.

Dari pemahaman tentang Pemilu sebagai PERANG dan BISNIS di atas, pesan penting apa yang dapat diambil?

Sederhana saja!

Karena Pemilu adalah Perang dan Bisnis, maka jangan tunda apa yang bisa segera dilakukan, yakni “Kumpulkan kesalahan dan kelemahan lawan untuk disampaikan kepada publik sebagai pembanding! Apakah akan memilih Anda atau lawan yang memiliki banyak kelemahan dan telah banyak melakukan kesalahan yang merugikan masyarakat! ”

(Sabar Sitanggang 2018 “10 Langkah Menang di Dapil”  Depok : Pustaka ar-Rayhan)