Breaking News
Home / Strategi / 10. Saatnya Bertawakkal

10. Saatnya Bertawakkal

Print Friendly, PDF & Email

#10. SAATNYA BERTAWAKKAL

“Saya berpendapat bahwa dampak berganda dalam pembangunan ekonomi harus dimulai dari pertanian dan kelautan. Masalah utama pertanian kita, bukanlah terletak pada mampu atau tidaknya kita meningkatkan produksi, tetapi lebih kepada stabilitas harga. Untuk membantu petani dan nelayan kita, Pemerintah perlu memberikan subsidi pembelian produk pertanian dan perikanan. Harga dasar gabah dan produk perikanan, misalnya bisa ditetapkan lebih tinggi daripada harga pasaran. Dengan demikian harga akan stabil dan gairah petani dan nelayan untuk menanam dan melaut juga besar. ”

Dari mulut Manusia Agung yang lahir lebih dari 1386 tahun lalu, tepatnya 8 Juni 632 menurut perhitungan tahun Masehi, terucap sebuah kalimat yang bernas dan memotivasi:

“Andaikata kamu bertawakal penuh kepada Allah, niscaya Allah akan memberi rizki kepadamu, sebagaimana burung yang keluar dengan perut kosong (lapar) dan kembali senja hari dalam keadaan kenyang”

Ternyata, burung adalah contoh yang baik untuk tawakal.

Perhatikanlah burung-burung di sekitar kita. Tak pemah terlihat burung-burung yang terbang di pagi hari, setiap harinya, yang bermilyar-milyar jumlahnya, saat kembali, pulang di saat senja dengan tembolok kempis! Tak penah dijumpai itu .

Kita akan selalu menyaksikan bahwa bagian yang terletak diantara paruh dan dada, akan menonjol, terisi makanan! Begitulah perumpamaan tawakal itu. Ada dimensi ikhtiar (usaha) di dalamnya. Dan memang seperti itulah sejatinya.

Tawakal tidak berarti bertopang dagu dan berpeluk tangan, enggan berusaha, dan malas bekerja. Tawakal yang sebenamya adalah disertai melipat (menyingsingkan) lengan baju dan memeras tenaga bahkan kadang sampai berpeluh keringat, berusaha untuk mencapai maksud yang dicita-citakan melalui jalan dan cara-cara yang benar serta sepatutnya dilalui.

Tapi, apakah berikhtiar memang menjadi syarat yang berhubungan sebab-akibat (kausalitas) dengan tawakal?

Tidak!

Ikhtiar adalah syarat perlu bagi tawakal tapi bukan syarat cukup. Tawakal tidak memiliki kaitan dengan hubungan kausalitas ikhtiar. Tawakal lebih tepat didekati dengan sikap menyerahkan segala urusan – yang telah, sedang dan akan dikerjakan, secara positif kepada Allah setelah memaksimalkan ikhtiar berupa rencana, strategi, atau aktivitas, serta menerima akibat apapun dengan prasangka baik. Sikap dan pemahaman seperti ini penting. Karena sedikit saja keraguan akannya, atau keyakinan akan adanya kausalitas di dalamnya, sangatlah berbahaya!

Karenanya, perlu ditegaskan bahwa:

“Tidak ada hubungan antara tawakal dengan menggunakan kaidah-kaidah kausalitas ketika beramal. Mencampuradukkan antara keduanya akan menjadikan tawakal hanya sekadar formalitas belaka yang tidak ada dampaknya dalam kehidupan”

Pertanyaan mendasamya adalah, “Apa kaitannya tawakal dengan pemenangan Pemilu 2019?” Besar sekali!

Bukankah Anda sudah merencanakan agenda, mengatur strategi, dan segala hal yang mengarah kepada pemenangan Pemilu! Semua itu, memang harus dikerjakan. Harus, karena memang begitulah syari’atnya (jalannya). Tetapi, kesemuanya itu haruslah diletakkan pada altar persembahan tawakal, yang bermakna bahwa the final judgment (al-Hakim), Sang Pemutus Akhir ada pada “tangan” Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Anda telah menetapkan niat, melibatkan Allah dalam setiap aktivitas, menempuh langkal langkah yang rasional dan terukur yar diperkirakan akan mendekatkan pada kemenanga dengan segala hal yang menyertainya. Tapi, semua itu belumlah cukup. Dan kekurangan itu, ada pada sisi tawakal.

Tawakal merupakan perilaku terbaik seorang hamba untuk membujuk Allah, menggunakan Hak Prerogatif Kun-NYA menjadi Fayakun, yang pasti menghasilkan yang terbaik bagi siapa saja yang menerimanya. Meski, kadang hal itu tampak sebagai sesuatu yang tak dikehendaki!

ُ …. وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ
“Dan boleh jadi kamu tidak menyenangi (membenci) sesuatu. padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu. padahal itu tidak baik bagimu. Allah Maha Mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui”. (QS. 2 : 216)

Nasehat bijak dari Ibn Athaillah tentang alasan mengapa harus berserah, patutlah diresapi.

“Siapa pun yang ingin sampai pada Allah, tentu saja harus datang melalui pintu-Nya dan mencapai-Nya lewat keberadaan sebab-sebab-Nya. Setelah itu, jangan pernah berupaya untuk ikut mengatur atau ikut campur dalam pengaturan dan ketentuan-NYA.

Menutup bagian yang sangat penting ini, nasehat bijak dari seorang ulama, sufi besar sekaligus pakar ilmu jiwa di era Islam klasik, yang dilahirkan di Bashrah pada 165 H / 781 M, dan wafat di Baghdad pada 243 H/857 M serta merupakan guru dari Junayd al-Baghdadi, yakni Abu Abd Allah al-Harits ibn Asad al-Muhasibi, sangat perlu diresapi dengan kerendahan hati dan ketulusan jiwa:

“Orang bertawakal sangat mengetahui -dengan penuh keyakinan dan ketenangan, bahwa apa yang diberikan dan ditentukan untuknya, meskipun berada di tengah hembusan angin, niscaya ia akan mengejarnya. Dan, bahwa apa yang belum ditentukan untuknya, meskipun berada di hadapannya dan ia dibantu penghuni langit dan bumi untuk mencapainya, niscaya ia tidak akan mampu atas hal itu Sesungguhnyalah kemenangan itu semata-mata hanya dari dan milik Allah.

“Hendaklah kamu bersiap-siap untuk melawan mereka dengan sekuat tenagamu, dan kekuatan dari kuda yang terpaut, dengan demikian kamu membuat gentar musuh Allah dan musuhmu; begitu juga orang-orang lain selain mereka yang tidak kamu ketahui, sedang Allah mengetahui mereka. Apa-apa yang kamu belanjakan pada jalan Allah, niscaya disempurnakan Allah balasannya kepadamu, sedang kamu tidak teraniaya” — QS. AL-ANFAAL (8) : 60

(Sabar Sitanggang 2018 : 10 Langkah Menang di Dapil, Depok : Pustaka ar-Rayhan)