Breaking News
Home / Artikel / Caleg Numpang di Partai Tenggelam

Caleg Numpang di Partai Tenggelam

Print Friendly, PDF & Email

Oleh : Fitriah Abdul Aziz S.Sos
Caleg “Numpang” PBB utk DPR RI Dapil DKI Jakarta II Pro Ijtima Ulama,

Waketum Muslimat Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia

Saya sebenarnya tidak terlalu berminat merespon komentar seorang pimpinan partai yang mengatakan bahwa caleg yang mendukung capres yang berbeda dengan pilihan mayoritas internal partai disebut caleg “numpang’ dan bukan kader partai. Saya akan coba cerita masalah caleg “numpang” ini, karena bagi saya sebutan “numpang” ini bermakna merendahkan. Terus terang saya mencalonkan diri di partai ini karena panggilan nurani saya untuk menyelamatkan partai ini. Karena menurut ketua umumnya sudah 10 tahun partai ini “tenggelam”. Awalnya saya tidak terpikir mencalonkan diri di partai ini karena selain partai gurem dan masa depannya tampak suram untuk bisa lolos Parliamentary Treshhold 4 persen.

Tapi suatu hari, suami saya yang pengurus inti Dewan Da’wah Pusat menyodorkan saya formulir pencalegan dari partai ini karena dia mengatakan kepada saya bahwa partai ini mengirim surat ke Dewan Da’wah Pusat memohon agar mengutus kader kader terbaiknya untuk dicalonkan di partai ini. Awalnya saya ragu dan kurang bersemangat karena sudah dua partai Islam yang lumayan kuat sudah menawarkan saya untuk menjadi calegnya. Saya kemudian mempelajari latar belakang partai ini, betapa tersentuh hati saya ketika tahu bahwa partai ini ternyata awalnya didirikan oleh para kader binaan tokoh tokoh Masyumi maupun tokoh Masyuminya langsung sebutlah nama Anwar Haryono, KH. Rusyad Nurdin, HM Kholil Badawi, Hartono Mardjono, KH. Abdurrasyid Syafi’i, KH. Kholil Ridwan, Affandi Ridwan, Ustad Badruzzaman Busyairi, KH. A. Qadir Djaelani, dan tokoh tokoh lainnya yang sangat terkenal integritasnya, keikhlasannya, kejujurannya dan mereka semua pernah menjadi pengurus di Dewan Da’wah yaitu lembaga tempat saya mengabdi.

Terbayang di pikiran saya bahwa partai ini sebenarnya reinkarnasi partai Masyumi yang pernah jaya tahun 1955, tokoh tokoh Masyumi dahulu kala yang paling saya kagumi adalah Bapak Mohammad Natsir. Lalu Bapak Kasman Singodimejo, Prawoto Mangkusasmito, Syafruddin Prawiranegara, Mohammad Roem melintas secara bergantian di pikiran saya dan meluluhkan hati saya untuk mau ikut berjuang di partai ini, saya mau nilai nilai mulia yang pernah mereka perjuangkan dengan darah dan air mata dapat dilanjutkan oleh saya dan caleg caleg lainnya di parlemen.

Karena niat tulus agar partai ini eksis kembali maka saya bersedia karena ibadah lillahi ta’ala. Saya katakan kepada salah satu pengurus partai ini agar nomor berapapun dan dimanapun dapil saya ditempatkan, saya ridho tidak keberatan. Belum lagi saya mendengar cerita teman teman caleg lain yang dianggap “numpang” itu, ada seorang perawat internasional yang datang sendiri karena prihatin mendengar kabar bahwa partai ini kekurangan caleg perempuan (syarat 30 persen perempuan) sehingga dia pun ridho untuk ditempatkan dimana saja dan terbukti dia ditempatkan di daerah yang tak satu pun orang yang dia kenal di daerah itu dan jauh dari tempat ia tinggal di Jakarta. Betapa aneh menurut saya, ternyata pengorbanan dan perjuangan saya dan teman teman caleg “numpang” ini dijadikan isu sinis hanya karena berbeda dalam pilihan politik. Bagi saya, seharusnya para pimpinan partai berterima kasihlah kepada caleg caleg “numpang” ini. Bisa jadi semangat dan pengorbanan mereka berlipat lipat lebih banyak daripada caleg caleg yang sudah menjadi pengurus di partai “tenggelam” ini.

Mereka yang disebut caleg “numpang” ini rata rata memiliki latar belakang profesi berbeda dan patut diperhitungkan. Ada ustad yang memiliki jamaah yang sangat besar bahkan menjadi ketua pelaksana di reuni mujahid 212, ada juga pakar hukum dan mantan anggota DPR RI yang cukup populer sehingga bisa meningkatkan elektabilitas partai, ada para dosen dari universitas terkemuka di Indonesia, Aktivis sosial dan dakwah, para dokter, para pengusaha, mantan militer dan masih banyak para pakar di bidangnya yang dianggap caleg “numpang”.

Dalam fikiran saya andaikan mereka semua ini tidak mau “numpang” di partai “tenggelam” ini apakah partai ini dapat merekrut caleg caleg yang kredibilitasnya baik di masyarakat? Jadikan lah 10 tahun tenggelamnya partai ini (menurut Ketua umumnya) menjadi introspeksi bagi kader partai tersebut untuk berkaca apakah para kader yang ada di partai ini merasa percaya diri untuk tampil bertarung kembali tanpa ada caleg caleg “numpang” / caleg baru tersebut ?.

Seharusnya partai ini menyambut caleg caleg baru ini dengan rasa syukur. Kepakaran dan profesi mereka seharusnya dijadikan amunisi partai untuk mendulang suara. Justru kepakaran dan profesi mereka yang berbeda beda menjadi anugrah untuk partai ini karena dengan keberadaan mereka memudahkan partai ini nantinya berjuang di parlemen menyelesaikan berbagai masalah masyarakat sesuai dengan latar belakang kepakaran dan profesi calegnya.

Kemudian masalah istilah bukan kader partai, bagi saya istilah ini seperti membuat jarak dengan ummat, padahal bila partai ini didirikan oleh ummat, tidaklah layak ada perbedaan antara kader partai dan bukan kader partai. Karena partai ini sejatinya milik ummat dan mereka semua berhak merasa memiliki sehingga semuanya adalah “kader ummat” yang mempunyai cita cita yang sama dari awal pendirian partai ini. Janganlah kita membedakan mana caleg kader partai dan caleg bukan kader kepada orang orang yang sudah jelas pengorbanannya untuk menyelamatkan partai ini. Jadikan partai ini menjadi rumah bagi seluruh kader ummat dari latar belakang profesi, kepakaran dan ormas ormas Islam. Biarkan mereka datang dengan pengorbanan waktu, tenaga, materi dan pikiran untuk berjuang dengan kendaraan partai milik ummat ini. Insya Allah partai ini tidak tenggelam kembali. Bismillah, mari kita berjuang bersama sesuai dengan aspirasi ummat tanpa ada pandangan skeptis dan sinis.

Wallahu’alam Bishawwab

About Azhar Zainuri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *