Breaking News
Home / Beyond Pemilu 2019 / Strategi / 2. Libatkan Allah

2. Libatkan Allah

Print Friendly, PDF & Email

#2. Libatkan Allah

Sering kali, kalau tak selalu, sadar ataupun tak sadar, dalam aktifitas hidup sehari-hari, kita meninggalkan Allah. Atau sekurang-kurangnya kita “mengistirahatkan” Allah!.

Meski, dalam keadaan tertentu, Allah justru kita hadirkan. Allah sepenuhnya menjadi tumpuan, bahkan keluhan kita. Saat kesedihan,  kepahitan, kesusahan, kemiskinan dan segala kekurangan hidup datang menghampiri.

Anehnya, saat semua hal itu berlalu: saat kesedihan telah menjadi kegembiraan; saat kepahitan menjadi buah yang manis; saat kesusahan bertukar kemudahan dan kesenangan; dan saat segala kekurangan berubah menjadi kelebihan dan kelapangan hidup, Allah hilang kembali!.

Seringkali, saat terlepas dari segala himpitan dan kesulitan hidup, yang terucap dari bibir kita, justru ujaran kesombongan, “ternyata aku bisa melaluinya”.

Sikap itu harus segera ditinggalkan. Sebagai pribadi dan Caleg Partai Bulan Bintang, kita harus kembali menghadirkan Allah dalam setiap tarikan nafas dan aliran darah karena kita memang butuh kehadiran-NYA.

Kehadiran Allah sangatlah penting, khususnya bagi Caleg, dalam setiap tahapan Pemilu dan rencana pemenangan yang telah dirancang.

Sebenarnya, sejak kita tetapkan niat yang lurus semata-mata beribadah, kita telah melibatkan Allah didalamnya. Tetapi, itu saja tidaklah cukup! Perlu lebih dari sekadar itu.

Melibatkan Allah di dalam aktifitas kita berarti berusaha “membujuk” Allah untuk bersedia mendampingi setiap kegiatan apapun yang akan, sedang, dan telah kita rancang. Bahkan yang telah kita lalui. Untuk itu, kita perlu mempersembahkan sesuatu yang memungkinkan Allah datang menghampiri kita.

Bagaimana caranya? Hadirkanlah Allah dengan prinsip 3S, yakni : Shalat, Sedekah, dan Shaum.

Pertama, SHALAT. Selain shalat-shalat wajib, perlu meningkatkan ibadah yang paling disenangi Allah ini dengan shalat-shalat sunnah. Dan shalat sunnah yang utama adalah menghidupkan malam dan pagi. Kongkritnya, lakukan dan tingkatkan kualitas shalat malam (qiyamul lail) dan shalat pagi (ad-dhuha) kita.

Pernahkah terfikirkan secara serius dan mendalam, bagaimana Allah begitu peduli menyebutkan secara khusus ibadah shalat malam hari, meskipun itu hanyalah ibadah sunnah semata? 

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

Wa minal laili fatahajjad bihi! Dan dari sebagian malam, maka bertahajjudlah!

Karena itu saat itulah Sang Khaliq mencari hamba- hamba-NYA, disaat keheningan dan nyenyaknya tidur dalam sepertiga malam terakhir, yang masih membasahi bibirnya dengan bertasbih, menyebut dan mengagungkan nama-NYA.

Dan waktu dhuha? Begitu istimewanya kata penunjuk waktu ini, hingga Allah menyebutkannya eksplisit beberapa kali dalam Al-Qur’an. Apa artinya? Jelas karena pentingnya makna kata itu.

Lihatlah bagaimana pada awal surah Ad-dhuha, misalnya, Allah berfirman  وَالضُّحَى (Demi waktu Dhuha)

Perhatikanlah mengapa Allah Subhanallau wa Ta’ala bersumpah dengan setiap sesuatu itu, dalam hal ini waktu dhuha, menunjukkan hal yang agung dan besar kelebihannya. Hal ini bermakna bahwa waktu Dhuha adalah waktu yang sangat penting.

Allah memberi kelebihan kepada ummat-NYA untuk memanfaatkan waktu yang penting itu, dengan mendirikan shalat sunnah Dhuha, mulai saat munculnya matahari dan berakhir sesaat akan tiba waktu Dzuhur.  Boleh 2 rakaat, 4 rakaat, 6 rakaat, 8 rakaat, bahkan 12 rakaat.

Barang siapa yang shalat Dhuha dua rakaat, maka dia tidak ditulis sebagai orang yang lalai. Barang siapa yang mengerjakannya sebanyak empat rakaat, maka diditulis sebagai orang yang ahli ibadah. Barang siapa yang mengerjakannya enam rakaat, maka dia diselamatkan di hari itu. Barang siapa yang mengerjakannya delapan rakaat, maka ditulis sebagi orang yang taat. Dan barangsiapa yang mengerjakannya dua belas rakaaat, maka Allah akan membangun sebuah rumah di surga untuknya (Hadits riwayat At-Thabrani).

Shalat Qiyamul Lail dan Ad-Dhuha sungguh begitu pentingnya posisi kedua sholat ini di sisi Allah. Dan kedua shalat sunnah ini, merupakan alat yang ampuh sebagai bujukan hamba kepada Sang Khaliq untuk berkenan membuka jalan bagi kemenangan.

Kedua, SEDEKAH. Sederhananya, berbagilah kepada sesama. Perilaku mau berbagi, yang bukan semata-mata merupakan perintah Allah, tetapi juga melahirkan kepekaan sosial. Ini adalah modal utama bagi tumbuhnya kepercayaan public (public trust). Meski, sekali lagi perlu diingatkan bahwa motivasi dan orientasinya haruslah ibadah.

Dalam sedekah, prinsip yang harus menjadi pegangan adalah  banyak adalah baik, tetapi kontinyuitas menjadi lebih penting. Pembiasaan bersedekah haruslah menjadi perilaku yang pada gilirannya menjadi pohon berbuah ranum nam lezat bagi siapa saja yang menanamnya.

Pastinya jaminan Allah tentang imbalan yang berlimpah, atas sedekah hamba-NYA, tak perlu diragukan. Mengapa?  Karena bersedekah berarti memberi pinjaman yang baik kepada Allah!

  إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ

 

Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan (ganjarannya) kepada mereka; Dan bagi mereka pahala yang banyak (QS Al-Hadid : 18)

Bayangkan, Anda memiliki piutang pada Allah! Sang Maha Kaya Pemberi berhutang kepada Anda. Apakah bayarannya?

{مَّن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ} [البقرة :  ٢٤٥]

“Siapapun yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan pembayarann kepadanya dengan lipat ganda yang banyak [QS Al-Baqarah : 245]

Itulah makna hakiki dari sedekah. Anggota Legislatif adalah ikan yang diharapkan, maka SEDEKAH adalah UMPAN TERBAIK yang disajika oleh pemancing.

Ketiga, SHAUM. Dalam bahasa kita sering diartikan menjadi PUASA. Dalam hal ini dimaksudkan PUASA SUNNAH. Ini adalah ibadah yang sangat khusus dan unik. Shalat sunnah dan Sedekah  adalah bentuk amal ibadah yang masih bisa dikenali oleh inders sesama manusia, sehingga seringkali terusik, tergelincir pada riyamasih sangat mungkin. Tapi, tidak untuk SHAUM,

Shaum atau puasa sungguh-sungguh ibadah yang hanya hamba dan Sang Khaliq sajalah yang tahu. Begitu memang yang seharusnya.

Seseorang dapat bertingkah, memasang mimik dan gaya, seolah-olah sedang berpuasa dihadapan manusia. Tapi tidak terhadap Allah.

Dus, anda Caleg dari Partai Bulan Bintang, lakukan (bila belum), tingkatkan (bila sudah) Gerakan 3S. Kenapa? Agar lebih mudah melibatkan Allah dalam setiap aktifitas Pemilu yang kita rancang.

Dan mulailah semua hal yang terbaca diatas setelah membacanya.

(Sabar Sitanggang 10 Langkah Menang di Dapil, 2018  Depok : Pustaka ar-Rayhan )